“Sikembar
Yang Bersatu kembali”
Karya : Eka
Putri Haryati
Namaku
syarifah, sekarang usiaku 16 tahun aku duduk dikelas 2 SMA. aku tinggal bersama
ibu angkatku, sebenaranya aku terlahir dari orang tua yang kurang mampu, aku
mempunyai empat orang saudara, salah satunya adalah kembaran ku atau adikku yang
bernama Ajah, dan satu orang kakak laki-laki ku yang juga memiliki kembaran laki-laki
tapi sayang dia telah meninggal dunia ketika dia berumur 2 tahun, setelah itu
adik ku yang paling kecil bernama Rima. Jadi kami hanya tinggal 4 bersaudara,
kisah hidupku sangatlah menyedihkan karena keluarga ku adalah keluarga yang
kurang mampu dan ayahku hanyalah seorang pengangguran yang bisa dibilang tidak
mau bekerja, dia hanya makan tidur dirumah, sedangkan ibuku hanyalah seorang
pembantu rumah tangga, yang harus memberikan nafkah untuk kami sekeluarga. Pada
saat ibu melahirkanku dan kembaran ku, keluarga ku tidak mempunyai biaya untuk
menghidupi kami berempat (sebelum adikku rima lahir), apalagi waktu itu usia
kami dengan kedua kakak kembar kami hanya berjarak satu tahun, sehingga banyak
sekali kebutuhan yang harus dikeluarkan untuk mengurus kami.
Seminggu kemudian
setelah kelahiran kami, datanglah sepasang suami istri. Bapak dan ibu itu
ternyata bermaksud untuk membeli salah seseorang dari kami untuk diangkat
sebagai anaknya, karena mereka tidak mempunyai anak, dan orang tua kami
memikirkan nya matang-matang,sehingga mereka memutuskan mereka sepakat untuk
memberikan salah satu dari kami untuk diangkat sebagai anak bapak dan ibu itu
dengan syarat mereka harus merawat dan membesarkan, serta menyekolahkan anak
itu dengan penuh kasih sayang. Dan
ahirnya pun bapak dan ibu itu setuju dengan syarat itu, tetapi sebelumnya mereka
juga mempunyai syarat kalau, nanti anak yang mereka angkat sudah bersama
mereka, kedua orang tuaku tidak boleh mengambil atau mengatakan jika anak itu
adalah anak mereka.
Sebulan kemudian,……………..
Ibuku meninggal dunia
karena sakit-sakitan, dan akhirnya sekarang ayahku lah yang menjaga
adik-adikku, hingga sekarang.mereka tinggal didesa Linggi, sedangkan aku
tinggal bersama orang tua yang membeliku. Disana aku tumbuh besar dengan kasih
sayang yang mereka berikan kepadaku, aku tidak tahu saat itu aku bukan anak
kandung mereka yang aku tahu merekalah orang tuaku. Oya, kami tinggal di Jalan
Baru,Sinabang. Ayah angkatku itu bekerja diperkantoran sebagai seorang pegawai
negeri sipil, dia sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri, dan ibu angkatku
seorang ibu rumah tangga, sifatnya sangat tegas dan disiplin.
Dua tahun
kemudian,…………...
Waktu itu aku berumur 2
tahun, suatu malam dirumah aku, ibu, ayah, dan keluarga yang lainnya berkumpul
dirumah, karena malam itu ayahku sakit keras, penyakit nya kambuh akupun tidak
tahu apa penyakit yang diderita ayah angkat ku itu. Ketika itu ayah mengatakan
sesuatu kepadaku “ Syarifah, ayah sangat sayang padamu, ayah ingin sekali
melihat kamu tumbuh besar, tapi sepertinya ayah sudah tidak bisa lagi bermain,
membantumu membuat PR dari sekolah, mengantarkanmu ke TK, menciummu, memelukmu,
mungkin ini adalah kata terahir yang bisa ayah sampaikan untuk mu, tapi ayah
ingin kamu menjaga ibumu, patuh padanya, beribadah selalu, rajin belajar,
menjadi anak yang sopan santun, dan baik hati. Ayah sayang padamu”. Mungkin
hanya itulah kata terakhir ayah untukku, karena ketika ayah selesai mengatakan
itu dia menghembuskan nafas terahirnya. Kami semua menangis atas kepergiannya,
terutama ibuku dia sangat sedih dengan perginya ayah untuk selamanya, karena
bagiku ayah adalah sosok yang sangat penyayang dan tidak pernah sombong kepada
siapapun, yang pasti dia adalah orang yang sangat baik. Dan sekarang aku telah
kehilangan dua orang yang sangat aku sayangi yaitu ibu kandungku dan ayah
angkatku.
Seiring waktu berjalan,
tak terasa lima tahun setelah kepergian ayahku aku sudah berumur 7 tahun dan duduk di bangku kelas 4 Sekolah
Dasar. Disekolah aku mempunyai banyak teman tetapi hanya satu orang teman ku
yang sangat mengerti aku, kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama,
mengerjakan PR bersama, namanya Tasya. Tasya adalah teman baikku, setiap aku
punya masalah pasti aku selalu bercerita dengannya begitupun sebaliknya..
Dua bulan kemudian
setelah ujian semester pertamaku selesai, tak kusangka ayah kandungku meninggal
dunia karena sakit. Saat itu aku belum masih belum tahu kalau dia ayah
kandungku, pada malam-malam ke 7 setelah ayah ku meninggal ibu mengajak ku
untuk pergi ta’ziah ketempat almarhum ayahku, tetapi dia tidak mengatakan kalau
itu adalah ayahku tapi dia bilang kalau itu hanya saudarah jauh. Ahirnya pun
tiba ketika aku pergi kasana bersama ibu, aku melihat mereka yaitu saudara –
saudara tetapi aku tidak tahu apalagi mengenal mareka, tetapi ibu tidak
membiarkan ku bermain bersama mereka dia melarangku. Dan tanpa sengaja aku
mendengar beberapa orang ibu – ibu yang ada disana mengatakan kalau aku adalah
saudara kembar dari seorang anak yang mirip denganku yaitu ajah, yang memang
kembaranku. Sebenarnya aku marasakan kontak bantin dengannya, dia juga terus –
terusan melihatku, sebenarnya waktu itu aku ingin sekali berbicara dengannya tapi
ibu benar - benar menjaga ku agar tidak dekat – dekat dengan nya entah karena
dia takut aku akan tahu kalau itu keluarga ku atau dia tidak ingin aku pergi
jauh darinya. Akhirnya kami pun pulang dan sampai dirumah aku mengatakan apa
yang kudengar ketika disana kepada ibuku, tetapi ibu mengatakan “itu tidak
benar, mereka mengatakan itu hanya karena kamu sedikit mirip dengan anak itu”.
Sebulan kemudian ketika,
aku pergi ke kampung ibu untuk melihat nenek ku disana. Aku melewati rumah yang
waktu itu aku dan ibu pergi ta’ziah kesana, tetapi sekarang rumah itu sudah
dihancurkan karena tidak ada lagi yang menempatinya. Adik – adikku sekarang
tinggal dirumah adik ibu kandungku, karena sekarang tidak ada lagi yang merawat
mereka. Sedangkan saudara kembarku tinggal bersama abang dari ayah kandungku di
meulaboh, sekarang kami benar- benar terpisah dan tak tahu kapan kami semua
akan bersatu kembali.
Delapan tahun
kemudian…………..
Sekarang aku berumur 16
belas tahun, aku duduk dikelas sepuluh SMA, teman sebangku ku adalah Tasya kami
selalu duduk bersama sejak TK,SD,SMP,dan sekarang dijenjang SMA aku sangat
senang berteman dengannya karena dia baik sekali kepadaku aku sudah
menganggapnya seperti saudara ku sendiri. Pada saat memerima raport semester
pertama di kelas sepuluh ini aku mendapat peringkat kelima sedangkan Tasya
mendapat peringkat keenam.
Pagi itu, seperti biasa
Tasya menunggu ku di depan rumah untuk berangkat kesekolah bersama, karena
kebetulan jarak sekolah kami dengan rumah tidak terlalu jauh, jadi kami selalu
berjalan kaki pergi kesekolah dan lagi pula aku tidak memiliki sepeda motor dirumah,
pada saat aku sedang berjalan sambil bercerita dengan Tasya tiba-tiba seorang
cowok yang sangat aku benci karena kejahilan dan kesombongannya sejak SD itu lewat disampingku sambil memukul
pundakku hingga aku terjatuh, tetapi dia malah tertawa dan berkata “hahaha,
nenek udah jatuh, sakit yah nek, rasain siapa suruh jalan gak pakek tongkat
:P”. dia pergi bersama teman – temannya itu sambil mengejek ku itulah dia Diky,
dan itulah alasan kenapa aku sangat membencinya di selalu menjahiliku. Dengan
wajah kesal aku bangun dari jalan tempat aku jatuh itu dengan dibantu Tasya ,
kami melanjutkan perjalanan kesekolah.
Sampai dikelas aku dan
Tasya duduk dibangku barisan ketiga, dan masuklah Diky siMoGil itulah panggilan
ku untuknya yang berarti “MOnyet GILa”, yah dia sekelas denganku dan lebih
parahnya lagi dia duduk dibangku paling belakang tepatnya dibelakang ku karena
barisan bangkunya hanya sampai empat baris saja. Ahirnya jam pertama masuk
Biologi, pelajaran kesukaanku. Pagi ini kami ulangan dan seperti biasa Diky
selalu berusaha untuk menyontek jawaban ku diLKS ku. Tapi aku tidak akan pernah
membiarkan itu terjadi aku lebih senang jika melihat dia susah karena aku ingin
membalas perbuatannya yang tadi pagi dilakukan pada ku. Dan karena terlalu
sibuk dengan usahanya menyontek jawabanku yang tidak bisa dilihatnya, waktu
ulangan pun habis dan semua LKS siswa dikumpulkan tetapi punya si MoGil itu
tidak satupun terisi, dan gurupun melihat yang dikumpulkan Diky, dia memarahi
Diky karena tidak mengisi jawaban dari soal yang diberikannya.
Dia merasa kesal pada
ku, dan bell waktu istirahat pun berbunyi aku dan Tasya pergi kekantin sekolah
untuk membeli makanan, tetapi saat kami berjalan kekelas untuk makan dikelas
dia berlari dengan sangat kencang disampingku sambil mengambil makanan yang ku
bungkus dan kupegang ditanganku, akupun tidak tinggal diam sambil aku
mengejarnya aku membuka sepatuku dan melemparkan sepatuku yang sangat tepat
kena dikepalah nya. Dia berhenti berlari ditengah lapangan sekolah dan aku pun
langsung mengambil makanan ku yang dipegangnya, dan berdiri depan nya dan
berkata “kalau gak punya uang, jangan nyuri donk, gak tau malu”. Dan akupun
pergi berlari kekelas meninggalkan dia ditengah lapangan yang sudah dikelilingi
banyak siswa dan siswi itu.
Dan ahirnya bell pulang
berbunyi, aku dan Tasya pulang ketika kami berjalan cukup jauh dari sekolah,
kami melihat Diky sedang berkelahi dengan siswa dari SMA lain. “Dia sepertinya
butuh bantuan, fah”kata Tasya, “ ah aku gak mau, biarin jah dia digebukin
itukan salahnya juga pasti” lanjutku sambil menarik tangan Tasya, Tasya
memalingkan kepala ku untuk melihat ke arah Diky, ternyata Diky pingsan dan
mulutnya mengeluarkan darah. “ayo kita tolong dia, disini tidak ada orang,
kalau kita tidak menolongnya, kita akan berdosa” kata Tasya, “ya sudah, ayo
cepat”lanjutku. Kamipun berlari kearah Diky dan pemuda yang memukuli Diky pun
kabur, Diky setengah sadar “apa kamu masih sadar” ucap ku, dia hanya
mengangguk. “ ayo kita bawa dia kerumah sakit” ucap Tasya, “iya tapi pakai apa
kita mengantar dia kerumah sakit?” sambungku, “ pakai sepeda motornya Diky aja,
gimana?”, ucap Tasya, “Iya ayo”ucapku sambil mengangkat tangan Diky ke
pundakku. Tasya yang mengambil sepeda motornya dan aku yang memegangi Diky dari
belakang.
Sampai dirumah sakit,
suster langsung menolong kami untuk mengantar Diky kekamar pasien, dan aku
menelfon orang tua Diky memakai ponsel nya untuk mengabari bahwa anak mereka
masuk kerumah sakit karena berkelahi. Beberapa menit kemudian orang tua nya pun
tiba dan kami mohon pamit karena sudah sore takut orang tua kami khawatir
mencari, kami pulang naik becak ongkosnya ayah Diky yang memberikannya, dan
ayah nya juga mengucapkan terimah kasih kepada kami.
Sampai dirumah ibu
menanyakan kepada ku “kenapa kamu telat sekali pulangnya, fah?”, “iya bu,
soalnya tadi waktu aku sama Tasya lagi jalan mau pulang kerumah kami lihat
temen kami digebukin sama siswa dari SMA lain sampai keluar darah dan kami
nolongin dia” jelas ku kepada ibu, ahirnya ibupun menyuruhku istirahat.
Keesokan harinya
disekolah, Diky tidak sekolah dia izin sakit, dan rencananya kelas kami akan
pergi menjenguknya pulang sekolah nanti. “fah, kamu pergi ntar ngeliat Diky?”
Tanya Winda, “gak tahu juga sih, tapi sepertinya gak deh”, ucapku. “kenapa”
Tanya Winda lagi, “karena kami mau pergi ngerjain tugas ketempat si Bima” jawab
Tasya, “oh, kalau begitu apa ada yang ingin kalian kamu sampaikan sama
Diky,Fah?”Tanya Winda, “cepat sembuh ajah”ucapku, “cieeeee,yang udah baikan”
ejek Tika, “suka – suka kamu ajalah” tukas ku. Dan ahirnya bell pulang sekolah
pun berbunyi semua anak kelas kami pergi menjenguk Diky, dan kami Pergi kerja
kelompok kerumah Bima.
Ketika temen – temen
sampai kerumah Diky, yah karena Diky sudah pulang kerumah. Mereka menjenguk
Diky, tetapi Diky seperti mencari – cari seseorang, “ dimana Syarifah ?”kata
Diky, “ oh, Syarifah pergi kerja kelompok kerumah Bima, oya dia nitip pesan
untuk kamu” jawab Tika, “apa pesannya”Tanya Diky, “katanya cepat sembuh” jawab
Tika. “cicicicicieeeeeeee yang udah baikan nih” sorak anak – anak yang lainnya.
Keesokan harinya, ketika
aku dan Tasya sampai disekolah, kami melihat dimading (majalah dinding) sekolah
diadakannya lomba menulis cerpen (cerita pendek), bell waktu masukpun
berbunyi,dan kami masuk kedalam kelas. Hari ini jam pertama adalah pelajaran Bahasa
Indonesia, waktu ibu guru masuk kedalam kelas dia menyampaikan “ bagi anak-anak
yang ingin mengikuti lomba menulis cerpen silakan namanya ditulis dan serahkan kepada
ibu, tapi sebelum kalian mengikuti lomba itu terlebih dahulu, sekolah akan
menyeleksi dan seleksinya akan dilaksanakan besok” kata ibu guru. Aku dan Tasya
mengikuti lomba menulis cerpen itu. “oh iya,hari ini Diky gak masuk?” tanyaku,
“gak, kenapa kamu kangen yah sama dia?”Tanya Tasya, “yah enggak lah, aku malah
senang kalau dia gak sekolah jadi gak ada yang ngenggangguin aku” tukasku, “
iya deh, aku Cuma bercanda jangan marah donk” kata Tasya, “aku gak marah,
ngapain aku marah, gak ada gunanya kelles” jawabku. Nama-nama siswa yang
mengikuti lomba menulis cerpen pun sudah dikumpulkan, dan kemudian bell pulang
sekolah pun berbunyi, aku dan Tasya pulang.
Sesampai dirumah aku,
langsung bergegas makan dan bersiap untuk pergi, karena hari ini aku dan Tasya
berjanji untuk pergi membeli buku cerita untuk mencari ide-ide cerita untuk
seleksi lomba menulis cerpen disekolah besok, aku sudah memberi tahu ibu dan
ibu mengizinkannya, tak lama Tasya pun datang, aku berpamitan kepada ibu. Kami
pergi ketoko buku jalan kaki, sepanjang jalan kami bercerita tentang seleksi
lomba menulis puisi disekolah besok. “ Fah, nulis cerpen yang benar itu gimana
sih?” Tanya Tasya, “ yah, cara nya seperti yang diajarkan ibu guru, kan masih
ada catatan pelajaran bahasa Indonesia, jadi lihat ajah dibuku itu pasti ada
caranya, aku gak bisa bilang sama kamu sekarang karena akupun udah lupa,hehehe”
jawabku sambil tertawa, “hahahaha, ternyata kamu gak tahu juga” kata Tasya
sambil memegang pundak ku, sesampainya kami ditoko buku aku dan Tasya langsung
masuk kedalam dan memilih buku cerita yang menurut kami bisa dijadikan inspirasi
untuk menulis cerpen besok. Sepanjang hari kami mencarinya, dan akhirnya kami
menemukan buku cerita yang menurut kami bagus. Kamipun pulang kerumah karena
sekarang sudah jam 18.00 WIB. Sesampai dirumah aku focus untuk membaca cerita
yang ada didalam buku cerita itu, sampai jam 22.00 wib aku pun tertidur karena
kecapean mencari buku cerita bersama Tasya.
Pagi harinya, aku
bergegas pergi sekolah bersama Tasya, aku dan Tasya sangat bersemangat karena
hari ini adalah seleksi lomba menulis cerpen aku dan Tasya sudah memiliki ide
cerita yang menurut kami sangat bagus. Sampai disekolah, aku dan Tasya masuk
kedalam kelas dan duduk di atas kursi, tiba – tiba Diky masuk kedalam kelas “
selamat pagi” sapa Diky, “ kamu menyapa siapa Ky?” Tanya Tasya, “ Syarifah”
ucap Diky dengan spontan, “ Tumben banget bicara seperti itu, kamu kesambet
yah?” Tanya Tasya, “palingan Cuma ekting doank, biar kita berfikir dia udah
berubah” ucapku sambil memalingkan wajahku dari hadapan Diky, “Astaghfirullah,
kamu kenapa sih so’udhon gitu sama aku?” Tanya Diky, “yah memang begitu
kenyataannyakan” jawabku, “ terserah lah mau bilang apa” kata Diky.
Tak lama kemudian, ibu
guru pelajaran Bahasa Indonesia pun masuk kekelas untuk menyampaikan tentang
lomba menulis cerpen itu, “bagi siswa – siswa yang sudah mendaftar kemarin,
silakan memasuki ruangan auditorium untuk pelaksanaan seleksi lomba menulis
cerpen” kata bu guru. Dan kami pun pergi menuju ruangan auditorium, disana
sudah disediakan meja dan bangku serta alat tulis yang cukup untuk semua siswa
– siswa yang mengikuti seleksi lomba itu, dan juri pada seleksi lomba ini
adalah guru – guru Bahasa Indonesia dan kepala sekolah, seleksi pun berlangsung
Tasya duduk disampingku, aku menulis sebuah cerpen dengan tema “kisah kasih
disekolah”, sedangkan Tasya dengan tema “sahabat adalah semangat ku”.
Seleksi lomba menulis
cerpen pun selesai, pengumuman untuk cerpen yang lulus akan diumumkan besok
pagi. Setelah itu kami pun kembali masuk kekelas untuk melanjutkan pelajaran
yang masuk pada jam terahir itu, aku melihat Diky seharian ini hanya duduk
didalam kelas, “kamu kenapa gak pergi keluar kelas waktu jam istirahat tadi?”
tanyaku, “iya nih, aku belum terlalu sembuh karena peristiwa kemarin, oh iya
aku mau bilang makasih karena udah nolongin aku waktu itu Jv” kata Diky, “iya,
makanya jangan sok jagoan apalagi ngajak berantem macam tu, kan kalau kalah
babak belur gitu jadinya” ucapku dengan raut wajah cuek, “ia deh, aku gak
bakalan berantem lagi, jadi sekarang kamu mau gak temenan sama aku?” Tanya
Diky, ”gak mau ah” jawabku, “ kenapa?, mang apa salah aku, aku kan udah minta
maaf sama kamu, jadi apa alasan nya kamu jawab gitu?” Tanya Diky, “kamu mau
tahu salah kamu apa?. Salah kamu itu adalah ……” jawabku putus, “apa?, kenapa
berhenti ngomongnya?” Tanya Diky semakin penasaran. Lalu aku pun tidak manjawab
pertanyaannya itu, sebenarnya dalam hati aku tertawa melihat kelakuan nya hari
ini kepada ku, karena aku gak habis fikir seorang Diky yang sombong dan jail
itu mengajakku untuk menjadi temannya, hahaha apalagi melihat ekspresi wajahnya
yang penasaran dengan ucapan ku yang terputus itu, rasanya hari ini adalah hari tergila yang pernah aku
lalui. Taklama kemudian bell pulang sekolah
pun berbunyi, aku dan Tasya pulang kerumah. Dan waktu kami berjalan kami
lihat si Diky dijemput ayah nya dengan mobil, sepertinya dia memang benar –
benar sudah berubah, tapi yah sudahlah aku gak terlaluh mikirin tentang itu.
Sampai dirumah, aku
istirahat dan tertidur pulas, karena hari ini memang betul- betul hari
yang melelahkan. Ponsel ku berbunyi, dan
aku melihatnya ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ada nama kontaknya, yang
anehnya pesannya itu berisi “ hai, selamat malam. Maaf ganggu aku Cuma pengen
jadi temen kamu, aku bener bener udah berubah, aku mohon kamu percaya sama aku.
By : Diky” setelah membaca pesan singkat itu, aku tidak tahan membacanya akupun
tertawa terbahak bahak terdengar sampai keruang tamu, “kamu kenapa Fah?” Tanya
ibuku yang kaget dengan suara tertawa ku itu, “gak bu, Ifah lagi latihan drama
ni” ucapku bohong. Akupun lalu membalas pesannya Diky “ Kalau kamu memang mau
jadi temen aku, kamu harus mau ngelakuin apa yang aku minta”. Sebenarnya aku
gak tega buat ngerjain dia, tapi aku udah terlanjur bilang macam tuh sama dia,
tak lama kemudian bunyi pesan masuk di ponselku, aku tertawa melihat pesan itu
karena kata Diky “ iyaaaa, pasti aku bakal nurutin apa yang kamu minta, jadi
kamu maukan jadi temanku?”, lalu aku menjawab pesannya “bagus, ia deh aku mau
jadi teman kamu :p”, lalu Diky menjawab “ Thank’s friend J”, aku pun tertidur sambil memikirkan apa
yang akan aku lakukan besok dan bagaiman reaksinya Diky ketika aku ngerjain
dia.
Keesokan harinya,
sesampai disekolah aku dan Tasya masuk kedalam kelas dan bell masuk pelajaran
pun berbunyi, kami belajar pelajaran Matematika, satu jam pelajaran pun selesai
sekarang waktunya jam istirahat, ketika aku dan Tasya ingin pergi kekantin,
pengumuman seleksi lomba kemarin diumumkan memakai microfont dari dalam ruang
kantor “ nama – nama siswa yang disebutkan adalah cerpennya yang lulus yaitu, Fita,
Ilham, Syarifah, Tasya, Arya, dan Danil. Itu adalah nama-nama siswa yang lulus
seleksi lomba menulis cerpen, dan untuk informasi lebih lanjut silakan datangi
ibu Mega guru Bahasa Indonesia, terima kasih “. Aku dan Tasya sangat senang
karena lulus dari seleksi lomba menulis cerpen itu, dan yang lebih membuat kami
senang karena lomba berikut nya akan dilaksanakan di Banda Aceh. Ketika aku dan
Tasya masuk kedalam kelas, Diky mengucapkan ucapan selamat kepadaku dan Tasya,
“selamat yah, karena lulus seleksi lomba menulis cerpen” ucap Diky, “ iyah,
thank’s” jawabku, “ oh jadi sekarang kalian udah baikan” seru Tasya, aku menarik
tangan Tasya untuk duduk di samping kelas, dan aku menceritakan kejadian
kemarin malam ketika Diky mengirim pesan kepada ku, dan tidak kusangka ternyata
reaksi Tasya sama seperti reaksi ku pada malam itu dia tertawa terbahak – baha
sambil memegang perutnya, karena dia juga tidak menyangka seseorang yang
bernama Diky itu mengatakan hal seperti itu, itu tersa sangat mustahil tapi
itulah yang terjadi, tapi aku bertanya kepada Tasya dari mana dia dapat nomor
ponselku itu, dan Tasya hanya mengeleng- gelengkan kepala nya saja sambil
mengerutkan dahi tanda dia tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan ku itu.
Setelah itu kami pun langsung masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran
terakhir yang masuk, dikelas Tasya dan aku tersenyum penuh makna karena
mengingat cerita ku itu dan Tasya pun memberiku ide untuk ngerjain Diky, tak
lama kenudian bel sekolah pun berbunyi aku dan Tasya menjalankan rencana kami
untuk ngerjain si Diky, kami sengaja menunggu Diky digerbang sekolah karena
hari ini dia membawa sepeda motornya, dan ketika Diky hampir dekat ke gerbang
sekolah, kami menghentikan kendaraannya itu dan sekarang giliran aku yang
berbicara sesuai dengan rencana yang telah kami atur “Diky kamu masih ingat
janji kamu yang waktu itu kan?” tanyaku, “yang mana yah?” Tanya Diky balik, “oh
jadi kamu pura-pura baik saja sama kami,oke gak apa-apa tapi jangan nyesel
ya!!!” ancam Tasya, mendengar kata kata Tasya yang baru saja didengar Diky
akhirnya diapun meminta maaf “iya iya aku minta maaf, aku Cuma bercanda. Aku
masih ingat lah gak mungkin aku lupa, jadi sekarang kamu mau minta apa?”ucap Diky, “hah, gitu donk.
Gitukan enak, oke sekarang kami mau kamu neraktir kami makan, karena kami udah
lapar benget neh, gimana mau gak?” Tanyaku dan Tasya. Tampaknya Diky berfikir
sejenak dengan apa yang kami ucapkan, “Gimana??!!” ucap Tasya dengan suara yang
membuat lamunan Diky buyar karena kaget “Iya, ayo kalian mau makan apa dan
dimana?” Tanya Diky pasrah, “ oke sekarang kamu ikut kami, kami naik becak,
ntar kamu ikut dari belakang oke. Oyah sebelumnya kami gak punya ongkos buat
naik becak jadi kamu saja yang bayar yah” ucap ku tegas, “yaudah, tuh ada becak
naik saja ntar aku bayar ongkosnya” ucap Diky, “OKE!!!!” seru aku dan Tasya
bersamaan dengan semangat.
Sampailah ditempat
tujuan, kami mengajak dia untuk meneraktir kami disalah satu warung makan
kesukaan aku dan Tasya yaitu “warung makan sate padang”. Kami langsung masuk
aku dan Tasya duduk berdampingan sedangkan Diky duduk berhadapan dengan kami,
tanpa ragu ragu Tasya dan aku langsung memesan makanan kesukaan kami ,
sedangkan Diky hanya menelan air ludah nya karena kami tahu dia tidak
diperbolehkan makan makanan pedas oleh doctor selama dia masih dalam masa
berobat, tanpa melihat Diky aku dan Tasya makan dengan begitu lahap nya.
Setelah kenyang kami memintanya untuk mengantar kami pulang kerumah. Dia
mengantar Tasya dulu, baru setelah itu dia mengantar ku, ketika sampai di depan
rumah aku mengucapkan terimah kasih dan langsung masuk kedalam rumah karena aku
taku ibu akan melihatku pulang diantar oleh laki laki dan itu adalah hal yang
sangat tidak ia sukai.
Beberapa minggu
kemudian, para siswa yang lulus dalam seleksi lomba menulis cerpen disekolah
bertanding lagi di Kantor Dinas dengan utusan dari setiap sekolah yang ada di
Simeulue yaitu dari setiap sekolah hanya ada tiga putri dan tiga putra. Hari
itu juga kami langsung dibawah ke tempat di langsung kan nya lomba itu. Disana
banyak sekali siswa siswa yang mengikuti lomba menulis cerpen utusan dari
sekolah masing masing. Dan waktu menulis cerpen pun tiba aku dan Tasya duduk
bersebelahan saat itu aku menulis cerita dengan tema ” Kesuksesan ku adalah
keberhasilan orang tua ku”, sedangkan Tasya memakai tema “saling tolong
menolonglah dalam berbuat kebaikan”. Setelah kami selesai menulis ceritanya,
waktu perlombaan menulis cerita ini pun berakhir, dan pengumuman lulus atau
tidak lulus nya akan di umumkan minggu depan.Kami pun pulang diantar oleh guru
pembimbing.
Sesampai dirumah aku
istirahat karena kelelahan menulis cerita, keesokan harinya aku dan Tasya pergi
kesekolah latihan senam untuk tugas pelajaran Penjaskes. Hari ini, hari libur
kami memanfaatkan hari ini untuk menyelasaikan semua tugas dari sekolah.
Seminggu kemudian,
ketika aku dan Tasya pergi kesekolah, sesampai kami disekolah aku dan Tasya
dipanggil ke kantor, kata bu Mega guru pelajaran Bahasa Indonesia kami “kalian
lolos keseleksi berikutnya yaitu seleksi lomba menulis cerita pendek tingkat
provinsi, kalian akan pergi berlomba ke Banda Aceh seminggu yang akan datang,
jadi persiapkan diri kalian membacalah yang banyak, buat sekolah kita bangga”
ucap bu Mega, “ Ia bu, insya’allah” jawab aku dan Tasya bersamaan.
Hari ke tiga sebelum
kami berangkat, Diky menghampiri aku dan Tasya yang sedang duduk di bangku
kantin. Dia memberikan ku sebuah kotak yang terbungkuskan bungkus hadiah, aku
tak tahu apa isinya, “ ne buat kamu, tapi jangan di buka dulu, kamu buka waktu
kamu mau pergi aja” kata Diky, “yaudah, thank’s yah J” jawab ku. Setelah itu bell masuk kelas
pun berbunyi kami semua masuk kedalam kelas untuk belajar. Sehabis semua jam
pelajaran usai bell pulang pun berbunyi, seperti biasa aku dan Tasya pulang
bersama, sepulang sekolah kami pergi ke took buku untuk mencari buku yang bisa
kami pelajari atau bahan kami untuk lomba menulis cerita pendek.
Sehari sebelum aku dan
Tasya berangkat untuk mengikuti lomba menulis cerita pendek, aku membuka kado
yang diberikan Diky untuk ku, aku merasa penasaran dengan isi dari kado yang
diberikan Diky untukku, ketika aku membukanya ternyatai isi dari kotak kado itu
adalah sebuah kalung yang berbentuk hati dan ada selembar kertas diatasnya
tertuliskan “hai, kamu suka sama kalungnya?, sory aku gak bisa ngasih hadiah
yang sesuai keinginan kamu, karena aku takut nanyak sama kamu, tapi aku
berharap kamu menyukai kalung pemberian ku itu, aku pengen lihat kamu memakai
kalung itu sebelum kamu berangkat,dan semoga sukses dengan acara lombanya
semoga kamu juara disana, aku seneng karena kamu udah mau jadi temen aku,
thank’s for all. I love u by : Diky”. Setelah aku membaca surat itu, aku baru
terfikir ternyata selama ini Diky berubah total itu karena dia menyukai ku, “Ya
Allah, parah betul ni orang, benci jadi cinta?????” ucapku dalam hati, serasa
aku tidak percaya dengan yang barusan kubaca.
Keesokan harinya,…………
Hari ini, aku dan Tasya
akan pergi berangkat ke Banda Aceh dengan ditemani guru pembimbing kami,
sebelum pergi kami berpamitan dengan guru - guru dan teman - teman disekolah, ketika kami ingin masuk
kedalam kelas untuk berpamitan dengan teman- teman yang lain nya, tiba – tiba
Diky menghampiriku dan bertanya “apakah kamu suka dengan isi kadonya?” Tanya
Diky, lalu aku jitak kepala nya, “aauu sakit tau!!!!” erang Diky, “maaf, kalung
nya bangus aku suka, tapi suratnya aku gak suka bacanya” jawab ku, “kenapa??”
Tanya Diky, “pakai nanyak pula lagi, kenapa ada kata I love u disurat itu?”
tanyaku balik, “ oh itu,iya aku suka sama kamu” jawab Diky cepat, “hmm, ekting
ajah terus, kamu Cuma buat aku GR ajah kan??, ngaku dech” ucapku, “gak lah aku
memang suka sama kamu tapi karena kamu orang nya cuek maka nya aku sering
jahilin kamu biar kamu tahu kalau aku suka sama kamu” jelas Diky, “jadi,..?”
tanya ku, “jadi kamu mau gak jadi girl friend ku?” Tanya Diky balik, “gak mauuuu”
jawab ku sambil menghentakkan kaki ku. Tak lama aku dan Tasya dipanggil
kekantor agar bersiap- siap untuk berangkat kebandara, ibuku juga ada datang
dikantor, kami menyalami guru – guru dan ibu kami, akhirnya kamipun pergi
berangkat ke Banda Aceh menggunakan Pesawat. Sesampainya kami di bandara dan
memasuki pesawat, beberapa jam kemudian pun kami sampai di Banda Aceh.
Sesampainya kami di bandara kami langsung menuju ke penginapan untuk
beristirahat karena besok kami langsung bertanding. Malamnya kami berlatih lagi
untuk menciptakan cerita yang menarik.
Keesokan harinya, aku
dan Tasya beserta guru pembimbing pergi ketempat berlangsungnya lomba tersebut,
disana sudah ada ratusan siswa dari setiap kabupaten yang ada di Nanggro Aceh
Darussalam (NAD). Ternyata salah satu sekolah yang bertanding adalah sekolah
nya Ajah saudara kembarku. Saat itu aku tidak bertemu dengannya padahal dia
juga menjadi utusan dari sekolahnya. Kami berada disana sekitar 3 minggu,
karena ada beberapa kali lombanya dilaksanakan, seleksi demi seleksi pun sudah
kami lewati besok adalah hari penentuan siapa yang akan menjadi pemenang dari
lomba menulis cerpen, Alhamdulillah sekali sekolah ku selalu lulus dari seleksi
pertama hingga terahir, dan sekarang tinggal tiga orang peserta lagi yang
bertahan, yaitu sekolah ku, sekolah kembaran ku yang bernama Ajah, dan satu nya
lagi adalah sekolah SMA dari Aceh Selatan.
Akhirnya hari yang
dinanti – nantikan pun tiba aku harus masih melewati satu kali lagi seleksi
lomba menulis cerpen ini, aku, Ajah, dan Sukma. Kami bertiga memasuki ruangan
dan langsung bertanding menulis cerpen kami masing – masing, setelah
pertandingan selesai aku berjabat tangan dengan Ajah yang wajah nya sangat
mirip dengan ku, waktu itu aku belum mengetahui kalau dia kembaran ku. Saat aku
sedang duduk menunggu hasil dari lomba itu bersama rombongan sekolah kami, tiba
– tiba datang seorang ibu – ibu berjalan kerah ku dan memelukku sambil
memanggil ku Ajah, lalu akupun mengetakan pada nya kalau aku bukan anak yang
barnama Ajah, tetapi dia tidak percaya ketika orang yang dia maksud datang
menghampirinya datang dia malah hampir ingin pingsan karena melihat wajah kami
yang hampir mirip itu. Dan Ajah menjelasankan kepada bundanya itu, kalau aku
adalah peserta lain bukan dirinya dan berasal dari Simeulue. Lalu bundanya
itupun bercerita kepadaku kalau Ajah mempunyai saudara kembar yang kini entah
dimana karena dia dijual kepada orang lain, karena orang tuanya tidak mampu
menghidupi mereka, lalu ibu itu pun bertanya padaku “ nak apakah nama ibumu
Erma?” Tanya ibu itu padaku, “iya, tapi bagaimana ibu bisa tahu nama ibu saya?”
tanyaku balik pada ibu itu, “iya karena nama ibu yang membeli kakaknya Ajah
bernama Erma” jawab ibu itu, “mungkin ibu salah orang” ucapku, “kalau saya
salah orang kenapa wajah kalian sangat mirip sekali?”, “aku juga tidak tahu
kalau soal itu, memang sering aku dengar orang mengatakan kalau aku ini bukan
anak kandung ibu Erma, tapi dia selalu mengatakan kalau itu hanya gosip”,
jawabku, “tapi aku sangat yakin kalau kalian adalah saudara kembar, bagaimana
kalau kita test DNA saja?” usul ibu itu, akupun setuju, karena aku tidak mau
hidup dalam kebohongan selamanya, kami memanfaatkan beberapa hari setelah lomba
untuk melakukan test DNA. Sebelum itu, pengumuman pemenang lomba itupun
diumumkan, juara ketiga jatuh kapada SMA dari Aceh Selatan, juara kedua Jatuh
kepada SMA kembaran ku ajah, dan Alhamdulillah juara pertama dari lomba menulis
cerpen ini adalah SMA dari Simeulue yaitu sekolah kami.
Setelah penyerahan
hadiah selesai, aku minta izin kapada guru pembimbingku untuk pergi kerumah
sakit bersama Tasya sebentar. Sesampai disana kami langsungdiambil darah nya
untuk di cocokkan, jika hasilnya positif berarti kami memang mempunyai ikatan
keluarga kalau hasilnya negative berarti kami tidak mempunyai ikatan keluarga.
Hasilnya pun telah selesai ternyata kata dokter kami positif berarti aku memeng
saudara kandung nya Ajah. Karena itu bunda nya Ajah adalah bunda kujuga, akhirnya
ketika kami ingin pulang ke Simeulue, bundaku itu ingin bertemu dengan ibuku
jadi mereka ikut bersama ku untuk pulang kesinabang. Ketika aku sampai dirumah
ibu langsung memeluk dan menciumku dengan bangga karena sudah menang di lomba
itu. Dan dia melihat dibelakangku aku pulang bersama dua orang wanita dan salah
satu anak perempuan yang bersama ibu itu mirip sekali denganku, dia pun
bertanya “ mereka itu siapa, Fah?” Tanya ibu, lalu bundaku pun menjawab
pertanyaan itu “aku adalah bunda atau adik kandung ayah kandung mereka yang
telah meninggal dunia, dan gadis yang mirip dengan nya itu adalah kembarannya”
jelas bundaku, lalu akupun bertanya kepada ibu “ apakah benar apa yang
dikatakan oleh bunda itu kalau aku bukan anak kandung ibu, tetapi aku adalah
anak yang ibu beli dari keluarga asliku?”, tanyaku, “iya nak, Ifah bukan lah
anak kandung ibu, tetapi anak yang ibu beli, sekarng terserah kamu nak kamu mau
ikut dengan keluarga mu atau tinggal bersama ibu” ucap ibuku, “aku menganggap
ibu adalah seperti ibu kandungku,jadi kalian semua adalah keluargaku, aku ingin
sekali kalau kita bisa hidup bersama – sama. Dan akhirnya kami pun bersalaman
dan berpelukan, untuk seminggu ini bunda dan saudara kembar ku itu tinggal
dirumahku, setelah itu mereka pulang karena masih banyak sekali pekerjaan
mereka disana.
Keesokan
harinya, aku pergi kesekolah bersama dengan Tasya dan Ajah kali ini aku
mengajaknya untuk pergi kesekolah ku, dari pada suntuk dirumah, pagi itu
disekolah belum ramai anak sekolah yang datang, kami masuk kedalam kelas Ajah
memakai baju biasa, aku berjalan dibelakang ajah sedangkan ajah sudah duluan
masuk kekelas ku, tiba – tiba “bruk” Diky memeluk Ajah yang dikiranya adalah
aku, dia membuka mata dan berkata siapa yang ku peluk dengan cepat dia
melepaskan tangannya yang memeluk Ajah,dan langsung menyapu-nyapu mata nya
seperti orang kemasukan debu kematanya, “loh kenapa kalian mirip, tapi yang ini
pasti Syarifah,(dia menunjukku) karena dia memakai pakaian sekolah” ucap Diky,
ketika ia ingin memelukku aku langsung menghindar, dan diapun akhirnya memeluk
dinding, “hahahahahaaha” kami semua tertawa terbahak bahak karena kelakuannya
itu. Semingu kemudian Ajah dan bundaku kembali ke Banda Aceh, tetapi mereka
sudah berjanji akan datang kembali lagi katka bulan puasa ini nanti bersama
saudara dan keluarga ku yang lainnya, sekarang aku tetap tinggal bersama ibuku.
……Tamat……
Deka