Rabu, 03 Februari 2016

Sikembar Yang Bersatu Kembali

“Sikembar Yang Bersatu kembali”
Karya : Eka Putri Haryati

Namaku syarifah, sekarang usiaku 16 tahun aku duduk dikelas 2 SMA. aku tinggal bersama ibu angkatku, sebenaranya aku terlahir dari orang tua yang kurang mampu, aku mempunyai empat orang saudara, salah satunya adalah kembaran ku atau adikku yang bernama Ajah, dan satu orang kakak laki-laki ku yang juga memiliki kembaran laki-laki tapi sayang dia telah meninggal dunia ketika dia berumur 2 tahun, setelah itu adik ku yang paling kecil bernama Rima. Jadi kami hanya tinggal 4 bersaudara, kisah hidupku sangatlah menyedihkan karena keluarga ku adalah keluarga yang kurang mampu dan ayahku hanyalah seorang pengangguran yang bisa dibilang tidak mau bekerja, dia hanya makan tidur dirumah, sedangkan ibuku hanyalah seorang pembantu rumah tangga, yang harus memberikan nafkah untuk kami sekeluarga. Pada saat ibu melahirkanku dan kembaran ku, keluarga ku tidak mempunyai biaya untuk menghidupi kami berempat (sebelum adikku rima lahir), apalagi waktu itu usia kami dengan kedua kakak kembar kami hanya berjarak satu tahun, sehingga banyak sekali kebutuhan yang harus dikeluarkan untuk mengurus kami.
Seminggu kemudian setelah kelahiran kami, datanglah sepasang suami istri. Bapak dan ibu itu ternyata bermaksud untuk membeli salah seseorang dari kami untuk diangkat sebagai anaknya, karena mereka tidak mempunyai anak, dan orang tua kami memikirkan nya matang-matang,sehingga mereka memutuskan mereka sepakat untuk memberikan salah satu dari kami untuk diangkat sebagai anak bapak dan ibu itu dengan syarat mereka harus merawat dan membesarkan, serta menyekolahkan anak itu  dengan penuh kasih sayang. Dan ahirnya pun bapak dan ibu itu setuju dengan syarat itu, tetapi sebelumnya mereka juga mempunyai syarat kalau, nanti anak yang mereka angkat sudah bersama mereka, kedua orang tuaku tidak boleh mengambil atau mengatakan jika anak itu adalah anak mereka.
Sebulan kemudian,……………..
Ibuku meninggal dunia karena sakit-sakitan, dan akhirnya sekarang ayahku lah yang menjaga adik-adikku, hingga sekarang.mereka tinggal didesa Linggi, sedangkan aku tinggal bersama orang tua yang membeliku. Disana aku tumbuh besar dengan kasih sayang yang mereka berikan kepadaku, aku tidak tahu saat itu aku bukan anak kandung mereka yang aku tahu merekalah orang tuaku. Oya, kami tinggal di Jalan Baru,Sinabang. Ayah angkatku itu bekerja diperkantoran sebagai seorang pegawai negeri sipil, dia sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri, dan ibu angkatku seorang ibu rumah tangga, sifatnya sangat tegas dan disiplin.
Dua tahun kemudian,…………...
Waktu itu aku berumur 2 tahun, suatu malam dirumah aku, ibu, ayah, dan keluarga yang lainnya berkumpul dirumah, karena malam itu ayahku sakit keras, penyakit nya kambuh akupun tidak tahu apa penyakit yang diderita ayah angkat ku itu. Ketika itu ayah mengatakan sesuatu kepadaku “ Syarifah, ayah sangat sayang padamu, ayah ingin sekali melihat kamu tumbuh besar, tapi sepertinya ayah sudah tidak bisa lagi bermain, membantumu membuat PR dari sekolah, mengantarkanmu ke TK, menciummu, memelukmu, mungkin ini adalah kata terahir yang bisa ayah sampaikan untuk mu, tapi ayah ingin kamu menjaga ibumu, patuh padanya, beribadah selalu, rajin belajar, menjadi anak yang sopan santun, dan baik hati. Ayah sayang padamu”. Mungkin hanya itulah kata terakhir ayah untukku, karena ketika ayah selesai mengatakan itu dia menghembuskan nafas terahirnya. Kami semua menangis atas kepergiannya, terutama ibuku dia sangat sedih dengan perginya ayah untuk selamanya, karena bagiku ayah adalah sosok yang sangat penyayang dan tidak pernah sombong kepada siapapun, yang pasti dia adalah orang yang sangat baik. Dan sekarang aku telah kehilangan dua orang yang sangat aku sayangi yaitu ibu kandungku dan ayah angkatku.
Seiring waktu berjalan, tak terasa lima tahun setelah kepergian ayahku aku sudah  berumur 7 tahun dan duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Disekolah aku mempunyai banyak teman tetapi hanya satu orang teman ku yang sangat mengerti aku, kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama, mengerjakan PR bersama, namanya Tasya. Tasya adalah teman baikku, setiap aku punya masalah pasti aku selalu bercerita dengannya begitupun sebaliknya..
Dua bulan kemudian setelah ujian semester pertamaku selesai, tak kusangka ayah kandungku meninggal dunia karena sakit. Saat itu aku belum masih belum tahu kalau dia ayah kandungku, pada malam-malam ke 7 setelah ayah ku meninggal ibu mengajak ku untuk pergi ta’ziah ketempat almarhum ayahku, tetapi dia tidak mengatakan kalau itu adalah ayahku tapi dia bilang kalau itu hanya saudarah jauh. Ahirnya pun tiba ketika aku pergi kasana bersama ibu, aku melihat mereka yaitu saudara – saudara tetapi aku tidak tahu apalagi mengenal mareka, tetapi ibu tidak membiarkan ku bermain bersama mereka dia melarangku. Dan tanpa sengaja aku mendengar beberapa orang ibu – ibu yang ada disana mengatakan kalau aku adalah saudara kembar dari seorang anak yang mirip denganku yaitu ajah, yang memang kembaranku. Sebenarnya aku marasakan kontak bantin dengannya, dia juga terus – terusan melihatku, sebenarnya waktu itu aku ingin sekali berbicara dengannya tapi ibu benar - benar menjaga ku agar tidak dekat – dekat dengan nya entah karena dia takut aku akan tahu kalau itu keluarga ku atau dia tidak ingin aku pergi jauh darinya. Akhirnya kami pun pulang dan sampai dirumah aku mengatakan apa yang kudengar ketika disana kepada ibuku, tetapi ibu mengatakan “itu tidak benar, mereka mengatakan itu hanya karena kamu sedikit mirip dengan anak itu”.
Sebulan kemudian ketika, aku pergi ke kampung ibu untuk melihat nenek ku disana. Aku melewati rumah yang waktu itu aku dan ibu pergi ta’ziah kesana, tetapi sekarang rumah itu sudah dihancurkan karena tidak ada lagi yang menempatinya. Adik – adikku sekarang tinggal dirumah adik ibu kandungku, karena sekarang tidak ada lagi yang merawat mereka. Sedangkan saudara kembarku tinggal bersama abang dari ayah kandungku di meulaboh, sekarang kami benar- benar terpisah dan tak tahu kapan kami semua akan  bersatu kembali.  
Delapan tahun kemudian…………..
Sekarang aku berumur 16 belas tahun, aku duduk dikelas sepuluh SMA, teman sebangku ku adalah Tasya kami selalu duduk bersama sejak TK,SD,SMP,dan sekarang dijenjang SMA aku sangat senang berteman dengannya karena dia baik sekali kepadaku aku sudah menganggapnya seperti saudara ku sendiri. Pada saat memerima raport semester pertama di kelas sepuluh ini aku mendapat peringkat kelima sedangkan Tasya mendapat peringkat keenam.
Pagi itu, seperti biasa Tasya menunggu ku di depan rumah untuk berangkat kesekolah bersama, karena kebetulan jarak sekolah kami dengan rumah tidak terlalu jauh, jadi kami selalu berjalan kaki pergi kesekolah dan lagi pula aku tidak memiliki sepeda motor dirumah, pada saat aku sedang berjalan sambil bercerita dengan Tasya tiba-tiba seorang cowok yang sangat aku benci karena kejahilan dan kesombongannya  sejak SD itu lewat disampingku sambil memukul pundakku hingga aku terjatuh, tetapi dia malah tertawa dan berkata “hahaha, nenek udah jatuh, sakit yah nek, rasain siapa suruh jalan gak pakek tongkat :P”. dia pergi bersama teman – temannya itu sambil mengejek ku itulah dia Diky, dan itulah alasan kenapa aku sangat membencinya di selalu menjahiliku. Dengan wajah kesal aku bangun dari jalan tempat aku jatuh itu dengan dibantu Tasya , kami melanjutkan perjalanan kesekolah.
Sampai dikelas aku dan Tasya duduk dibangku barisan ketiga, dan masuklah Diky siMoGil itulah panggilan ku untuknya yang berarti “MOnyet GILa”, yah dia sekelas denganku dan lebih parahnya lagi dia duduk dibangku paling belakang tepatnya dibelakang ku karena barisan bangkunya hanya sampai empat baris saja. Ahirnya jam pertama masuk Biologi, pelajaran kesukaanku. Pagi ini kami ulangan dan seperti biasa Diky selalu berusaha untuk menyontek jawaban ku diLKS ku. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi aku lebih senang jika melihat dia susah karena aku ingin membalas perbuatannya yang tadi pagi dilakukan pada ku. Dan karena terlalu sibuk dengan usahanya menyontek jawabanku yang tidak bisa dilihatnya, waktu ulangan pun habis dan semua LKS siswa dikumpulkan tetapi punya si MoGil itu tidak satupun terisi, dan gurupun melihat yang dikumpulkan Diky, dia memarahi Diky karena tidak mengisi jawaban dari soal yang diberikannya.
Dia merasa kesal pada ku, dan bell waktu istirahat pun berbunyi aku dan Tasya pergi kekantin sekolah untuk membeli makanan, tetapi saat kami berjalan kekelas untuk makan dikelas dia berlari dengan sangat kencang disampingku sambil mengambil makanan yang ku bungkus dan kupegang ditanganku, akupun tidak tinggal diam sambil aku mengejarnya aku membuka sepatuku dan melemparkan sepatuku yang sangat tepat kena dikepalah nya. Dia berhenti berlari ditengah lapangan sekolah dan aku pun langsung mengambil makanan ku yang dipegangnya, dan berdiri depan nya dan berkata “kalau gak punya uang, jangan nyuri donk, gak tau malu”. Dan akupun pergi berlari kekelas meninggalkan dia ditengah lapangan yang sudah dikelilingi banyak siswa dan siswi itu.
Dan ahirnya bell pulang berbunyi, aku dan Tasya pulang ketika kami berjalan cukup jauh dari sekolah, kami melihat Diky sedang berkelahi dengan siswa dari SMA lain. “Dia sepertinya butuh bantuan, fah”kata Tasya, “ ah aku gak mau, biarin jah dia digebukin itukan salahnya juga pasti” lanjutku sambil menarik tangan Tasya, Tasya memalingkan kepala ku untuk melihat ke arah Diky, ternyata Diky pingsan dan mulutnya mengeluarkan darah. “ayo kita tolong dia, disini tidak ada orang, kalau kita tidak menolongnya, kita akan berdosa” kata Tasya, “ya sudah, ayo cepat”lanjutku. Kamipun berlari kearah Diky dan pemuda yang memukuli Diky pun kabur, Diky setengah sadar “apa kamu masih sadar” ucap ku, dia hanya mengangguk. “ ayo kita bawa dia kerumah sakit” ucap Tasya, “iya tapi pakai apa kita mengantar dia kerumah sakit?” sambungku, “ pakai sepeda motornya Diky aja, gimana?”, ucap Tasya, “Iya ayo”ucapku sambil mengangkat tangan Diky ke pundakku. Tasya yang mengambil sepeda motornya dan aku yang memegangi Diky dari belakang.
Sampai dirumah sakit, suster langsung menolong kami untuk mengantar Diky kekamar pasien, dan aku menelfon orang tua Diky memakai ponsel nya untuk mengabari bahwa anak mereka masuk kerumah sakit karena berkelahi. Beberapa menit kemudian orang tua nya pun tiba dan kami mohon pamit karena sudah sore takut orang tua kami khawatir mencari, kami pulang naik becak ongkosnya ayah Diky yang memberikannya, dan ayah nya juga mengucapkan terimah kasih kepada kami.
Sampai dirumah ibu menanyakan kepada ku “kenapa kamu telat sekali pulangnya, fah?”, “iya bu, soalnya tadi waktu aku sama Tasya lagi jalan mau pulang kerumah kami lihat temen kami digebukin sama siswa dari SMA lain sampai keluar darah dan kami nolongin dia” jelas ku kepada ibu, ahirnya ibupun menyuruhku istirahat.
Keesokan harinya disekolah, Diky tidak sekolah dia izin sakit, dan rencananya kelas kami akan pergi menjenguknya pulang sekolah nanti. “fah, kamu pergi ntar ngeliat Diky?” Tanya Winda, “gak tahu juga sih, tapi sepertinya gak deh”, ucapku. “kenapa” Tanya Winda lagi, “karena kami mau pergi ngerjain tugas ketempat si Bima” jawab Tasya, “oh, kalau begitu apa ada yang ingin kalian kamu sampaikan sama Diky,Fah?”Tanya Winda, “cepat sembuh ajah”ucapku, “cieeeee,yang udah baikan” ejek Tika, “suka – suka kamu ajalah” tukas ku. Dan ahirnya bell pulang sekolah pun berbunyi semua anak kelas kami pergi menjenguk Diky, dan kami Pergi kerja kelompok kerumah Bima.
Ketika temen – temen sampai kerumah Diky, yah karena Diky sudah pulang kerumah. Mereka menjenguk Diky, tetapi Diky seperti mencari – cari seseorang, “ dimana Syarifah ?”kata Diky, “ oh, Syarifah pergi kerja kelompok kerumah Bima, oya dia nitip pesan untuk kamu” jawab Tika, “apa pesannya”Tanya Diky, “katanya cepat sembuh” jawab Tika. “cicicicicieeeeeeee yang udah baikan nih” sorak anak – anak yang lainnya.
Keesokan harinya, ketika aku dan Tasya sampai disekolah, kami melihat dimading (majalah dinding) sekolah diadakannya lomba menulis cerpen (cerita pendek), bell waktu masukpun berbunyi,dan kami masuk kedalam kelas. Hari ini jam pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia, waktu ibu guru masuk kedalam kelas dia menyampaikan “ bagi anak-anak yang ingin mengikuti lomba menulis cerpen silakan namanya ditulis dan serahkan kepada ibu, tapi sebelum kalian mengikuti lomba itu terlebih dahulu, sekolah akan menyeleksi dan seleksinya akan dilaksanakan besok” kata ibu guru. Aku dan Tasya mengikuti lomba menulis cerpen itu. “oh iya,hari ini Diky gak masuk?” tanyaku, “gak, kenapa kamu kangen yah sama dia?”Tanya Tasya, “yah enggak lah, aku malah senang kalau dia gak sekolah jadi gak ada yang ngenggangguin aku” tukasku, “ iya deh, aku Cuma bercanda jangan marah donk” kata Tasya, “aku gak marah, ngapain aku marah, gak ada gunanya kelles” jawabku. Nama-nama siswa yang mengikuti lomba menulis cerpen pun sudah dikumpulkan, dan kemudian bell pulang sekolah pun berbunyi, aku dan Tasya pulang.
Sesampai dirumah aku, langsung bergegas makan dan bersiap untuk pergi, karena hari ini aku dan Tasya berjanji untuk pergi membeli buku cerita untuk mencari ide-ide cerita untuk seleksi lomba menulis cerpen disekolah besok, aku sudah memberi tahu ibu dan ibu mengizinkannya, tak lama Tasya pun datang, aku berpamitan kepada ibu. Kami pergi ketoko buku jalan kaki, sepanjang jalan kami bercerita tentang seleksi lomba menulis puisi disekolah besok. “ Fah, nulis cerpen yang benar itu gimana sih?” Tanya Tasya, “ yah, cara nya seperti yang diajarkan ibu guru, kan masih ada catatan pelajaran bahasa Indonesia, jadi lihat ajah dibuku itu pasti ada caranya, aku gak bisa bilang sama kamu sekarang karena akupun udah lupa,hehehe” jawabku sambil tertawa, “hahahaha, ternyata kamu gak tahu juga” kata Tasya sambil memegang pundak ku, sesampainya kami ditoko buku aku dan Tasya langsung masuk kedalam dan memilih buku cerita yang menurut kami bisa dijadikan inspirasi untuk menulis cerpen besok. Sepanjang hari kami mencarinya, dan akhirnya kami menemukan buku cerita yang menurut kami bagus. Kamipun pulang kerumah karena sekarang sudah jam 18.00 WIB. Sesampai dirumah aku focus untuk membaca cerita yang ada didalam buku cerita itu, sampai jam 22.00 wib aku pun tertidur karena kecapean mencari buku cerita bersama Tasya.
Pagi harinya, aku bergegas pergi sekolah bersama Tasya, aku dan Tasya sangat bersemangat karena hari ini adalah seleksi lomba menulis cerpen aku dan Tasya sudah memiliki ide cerita yang menurut kami sangat bagus. Sampai disekolah, aku dan Tasya masuk kedalam kelas dan duduk di atas kursi, tiba – tiba Diky masuk kedalam kelas “ selamat pagi” sapa Diky, “ kamu menyapa siapa Ky?” Tanya Tasya, “ Syarifah” ucap Diky dengan spontan, “ Tumben banget bicara seperti itu, kamu kesambet yah?” Tanya Tasya, “palingan Cuma ekting doank, biar kita berfikir dia udah berubah” ucapku sambil memalingkan wajahku dari hadapan Diky, “Astaghfirullah, kamu kenapa sih so’udhon gitu sama aku?” Tanya Diky, “yah memang begitu kenyataannyakan” jawabku, “ terserah lah mau bilang apa” kata Diky.
Tak lama kemudian, ibu guru pelajaran Bahasa Indonesia pun masuk kekelas untuk menyampaikan tentang lomba menulis cerpen itu, “bagi siswa – siswa yang sudah mendaftar kemarin, silakan memasuki ruangan auditorium untuk pelaksanaan seleksi lomba menulis cerpen” kata bu guru. Dan kami pun pergi menuju ruangan auditorium, disana sudah disediakan meja dan bangku serta alat tulis yang cukup untuk semua siswa – siswa yang mengikuti seleksi lomba itu, dan juri pada seleksi lomba ini adalah guru – guru Bahasa Indonesia dan kepala sekolah, seleksi pun berlangsung Tasya duduk disampingku, aku menulis sebuah cerpen dengan tema “kisah kasih disekolah”, sedangkan Tasya dengan tema “sahabat adalah semangat ku”.
Seleksi lomba menulis cerpen pun selesai, pengumuman untuk cerpen yang lulus akan diumumkan besok pagi. Setelah itu kami pun kembali masuk kekelas untuk melanjutkan pelajaran yang masuk pada jam terahir itu, aku melihat Diky seharian ini hanya duduk didalam kelas, “kamu kenapa gak pergi keluar kelas waktu jam istirahat tadi?” tanyaku, “iya nih, aku belum terlalu sembuh karena peristiwa kemarin, oh iya aku mau bilang makasih karena udah nolongin aku waktu itu Jv” kata Diky, “iya, makanya jangan sok jagoan apalagi ngajak berantem macam tu, kan kalau kalah babak belur gitu jadinya” ucapku dengan raut wajah cuek, “ia deh, aku gak bakalan berantem lagi, jadi sekarang kamu mau gak temenan sama aku?” Tanya Diky, ”gak mau ah” jawabku, “ kenapa?, mang apa salah aku, aku kan udah minta maaf sama kamu, jadi apa alasan nya kamu jawab gitu?” Tanya Diky, “kamu mau tahu salah kamu apa?. Salah kamu itu adalah ……” jawabku putus, “apa?, kenapa berhenti ngomongnya?” Tanya Diky semakin penasaran. Lalu aku pun tidak manjawab pertanyaannya itu, sebenarnya dalam hati aku tertawa melihat kelakuan nya hari ini kepada ku, karena aku gak habis fikir seorang Diky yang sombong dan jail itu mengajakku untuk menjadi temannya, hahaha apalagi melihat ekspresi wajahnya yang penasaran dengan ucapan ku yang terputus itu, rasanya hari  ini adalah hari tergila yang pernah aku lalui. Taklama kemudian bell pulang sekolah  pun berbunyi, aku dan Tasya pulang kerumah. Dan waktu kami berjalan kami lihat si Diky dijemput ayah nya dengan mobil, sepertinya dia memang benar – benar sudah berubah, tapi yah sudahlah aku gak terlaluh mikirin tentang itu.
Sampai dirumah, aku istirahat dan tertidur pulas, karena hari ini memang betul- betul hari yang  melelahkan. Ponsel ku berbunyi, dan aku melihatnya ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ada nama kontaknya, yang anehnya pesannya itu berisi “ hai, selamat malam. Maaf ganggu aku Cuma pengen jadi temen kamu, aku bener bener udah berubah, aku mohon kamu percaya sama aku. By : Diky” setelah membaca pesan singkat itu, aku tidak tahan membacanya akupun tertawa terbahak bahak terdengar sampai keruang tamu, “kamu kenapa Fah?” Tanya ibuku yang kaget dengan suara tertawa ku itu, “gak bu, Ifah lagi latihan drama ni” ucapku bohong. Akupun lalu membalas pesannya Diky “ Kalau kamu memang mau jadi temen aku, kamu harus mau ngelakuin apa yang aku minta”. Sebenarnya aku gak tega buat ngerjain dia, tapi aku udah terlanjur bilang macam tuh sama dia, tak lama kemudian bunyi pesan masuk di ponselku, aku tertawa melihat pesan itu karena kata Diky “ iyaaaa, pasti aku bakal nurutin apa yang kamu minta, jadi kamu maukan jadi temanku?”, lalu aku menjawab pesannya “bagus, ia deh aku mau jadi teman kamu :p”, lalu Diky menjawab “ Thank’s friend J”, aku pun tertidur sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan besok dan bagaiman reaksinya Diky ketika aku ngerjain dia.
Keesokan harinya, sesampai disekolah aku dan Tasya masuk kedalam kelas dan bell masuk pelajaran pun berbunyi, kami belajar pelajaran Matematika, satu jam pelajaran pun selesai sekarang waktunya jam istirahat, ketika aku dan Tasya ingin pergi kekantin, pengumuman seleksi lomba kemarin diumumkan memakai microfont dari dalam ruang kantor “ nama – nama siswa yang disebutkan adalah cerpennya yang lulus yaitu, Fita, Ilham, Syarifah, Tasya, Arya, dan Danil. Itu adalah nama-nama siswa yang lulus seleksi lomba menulis cerpen, dan untuk informasi lebih lanjut silakan datangi ibu Mega guru Bahasa Indonesia, terima kasih “. Aku dan Tasya sangat senang karena lulus dari seleksi lomba menulis cerpen itu, dan yang lebih membuat kami senang karena lomba berikut nya akan dilaksanakan di Banda Aceh. Ketika aku dan Tasya masuk kedalam kelas, Diky mengucapkan ucapan selamat kepadaku dan Tasya, “selamat yah, karena lulus seleksi lomba menulis cerpen” ucap Diky, “ iyah, thank’s” jawabku, “ oh jadi sekarang kalian udah baikan” seru Tasya, aku menarik tangan Tasya untuk duduk di samping kelas, dan aku menceritakan kejadian kemarin malam ketika Diky mengirim pesan kepada ku, dan tidak kusangka ternyata reaksi Tasya sama seperti reaksi ku pada malam itu dia tertawa terbahak – baha sambil memegang perutnya, karena dia juga tidak menyangka seseorang yang bernama Diky itu mengatakan hal seperti itu, itu tersa sangat mustahil tapi itulah yang terjadi, tapi aku bertanya kepada Tasya dari mana dia dapat nomor ponselku itu, dan Tasya hanya mengeleng- gelengkan kepala nya saja sambil mengerutkan dahi tanda dia tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan ku itu. Setelah itu kami pun langsung masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran terakhir yang masuk, dikelas Tasya dan aku tersenyum penuh makna karena mengingat cerita ku itu dan Tasya pun memberiku ide untuk ngerjain Diky, tak lama kenudian bel sekolah pun berbunyi aku dan Tasya menjalankan rencana kami untuk ngerjain si Diky, kami sengaja menunggu Diky digerbang sekolah karena hari ini dia membawa sepeda motornya, dan ketika Diky hampir dekat ke gerbang sekolah, kami menghentikan kendaraannya itu dan sekarang giliran aku yang berbicara sesuai dengan rencana yang telah kami atur “Diky kamu masih ingat janji kamu yang waktu itu kan?” tanyaku, “yang mana yah?” Tanya Diky balik, “oh jadi kamu pura-pura baik saja sama kami,oke gak apa-apa tapi jangan nyesel ya!!!” ancam Tasya, mendengar kata kata Tasya yang baru saja didengar Diky akhirnya diapun meminta maaf “iya iya aku minta maaf, aku Cuma bercanda. Aku masih ingat lah gak mungkin aku lupa, jadi sekarang kamu mau  minta apa?”ucap Diky, “hah, gitu donk. Gitukan enak, oke sekarang kami mau kamu neraktir kami makan, karena kami udah lapar benget neh, gimana mau gak?” Tanyaku dan Tasya. Tampaknya Diky berfikir sejenak dengan apa yang kami ucapkan, “Gimana??!!” ucap Tasya dengan suara yang membuat lamunan Diky buyar karena kaget “Iya, ayo kalian mau makan apa dan dimana?” Tanya Diky pasrah, “ oke sekarang kamu ikut kami, kami naik becak, ntar kamu ikut dari belakang oke. Oyah sebelumnya kami gak punya ongkos buat naik becak jadi kamu saja yang bayar yah” ucap ku tegas, “yaudah, tuh ada becak naik saja ntar aku bayar ongkosnya” ucap Diky, “OKE!!!!” seru aku dan Tasya bersamaan dengan semangat.
Sampailah ditempat tujuan, kami mengajak dia untuk meneraktir kami disalah satu warung makan kesukaan aku dan Tasya yaitu “warung makan sate padang”. Kami langsung masuk aku dan Tasya duduk berdampingan sedangkan Diky duduk berhadapan dengan kami, tanpa ragu ragu Tasya dan aku langsung memesan makanan kesukaan kami , sedangkan Diky hanya menelan air ludah nya karena kami tahu dia tidak diperbolehkan makan makanan pedas oleh doctor selama dia masih dalam masa berobat, tanpa melihat Diky aku dan Tasya makan dengan begitu lahap nya. Setelah kenyang kami memintanya untuk mengantar kami pulang kerumah. Dia mengantar Tasya dulu, baru setelah itu dia mengantar ku, ketika sampai di depan rumah aku mengucapkan terimah kasih dan langsung masuk kedalam rumah karena aku taku ibu akan melihatku pulang diantar oleh laki laki dan itu adalah hal yang sangat tidak ia sukai.
Beberapa minggu kemudian, para siswa yang lulus dalam seleksi lomba menulis cerpen disekolah bertanding lagi di Kantor Dinas dengan utusan dari setiap sekolah yang ada di Simeulue yaitu dari setiap sekolah hanya ada tiga putri dan tiga putra. Hari itu juga kami langsung dibawah ke tempat di langsung kan nya lomba itu. Disana banyak sekali siswa siswa yang mengikuti lomba menulis cerpen utusan dari sekolah masing masing. Dan waktu menulis cerpen pun tiba aku dan Tasya duduk bersebelahan saat itu aku menulis cerita dengan tema ” Kesuksesan ku adalah keberhasilan orang tua ku”, sedangkan Tasya memakai tema “saling tolong menolonglah dalam berbuat kebaikan”. Setelah kami selesai menulis ceritanya, waktu perlombaan menulis cerita ini pun berakhir, dan pengumuman lulus atau tidak lulus nya akan di umumkan minggu depan.Kami pun pulang diantar oleh guru pembimbing.
Sesampai dirumah aku istirahat karena kelelahan menulis cerita, keesokan harinya aku dan Tasya pergi kesekolah latihan senam untuk tugas pelajaran Penjaskes. Hari ini, hari libur kami memanfaatkan hari ini untuk menyelasaikan semua tugas dari sekolah.
Seminggu kemudian, ketika aku dan Tasya pergi kesekolah, sesampai kami disekolah aku dan Tasya dipanggil ke kantor, kata bu Mega guru pelajaran Bahasa Indonesia kami “kalian lolos keseleksi berikutnya yaitu seleksi lomba menulis cerita pendek tingkat provinsi, kalian akan pergi berlomba ke Banda Aceh seminggu yang akan datang, jadi persiapkan diri kalian membacalah yang banyak, buat sekolah kita bangga” ucap bu Mega, “ Ia bu, insya’allah” jawab aku dan Tasya bersamaan.
Hari ke tiga sebelum kami berangkat, Diky menghampiri aku dan Tasya yang sedang duduk di bangku kantin. Dia memberikan ku sebuah kotak yang terbungkuskan bungkus hadiah, aku tak tahu apa isinya, “ ne buat kamu, tapi jangan di buka dulu, kamu buka waktu kamu mau pergi aja” kata Diky, “yaudah, thank’s yah J” jawab ku. Setelah itu bell masuk kelas pun berbunyi kami semua masuk kedalam kelas untuk belajar. Sehabis semua jam pelajaran usai bell pulang pun berbunyi, seperti biasa aku dan Tasya pulang bersama, sepulang sekolah kami pergi ke took buku untuk mencari buku yang bisa kami pelajari atau bahan kami untuk lomba menulis cerita pendek.
Sehari sebelum aku dan Tasya berangkat untuk mengikuti lomba menulis cerita pendek, aku membuka kado yang diberikan Diky untuk ku, aku merasa penasaran dengan isi dari kado yang diberikan Diky untukku, ketika aku membukanya ternyatai isi dari kotak kado itu adalah sebuah kalung yang berbentuk hati dan ada selembar kertas diatasnya tertuliskan “hai, kamu suka sama kalungnya?, sory aku gak bisa ngasih hadiah yang sesuai keinginan kamu, karena aku takut nanyak sama kamu, tapi aku berharap kamu menyukai kalung pemberian ku itu, aku pengen lihat kamu memakai kalung itu sebelum kamu berangkat,dan semoga sukses dengan acara lombanya semoga kamu juara disana, aku seneng karena kamu udah mau jadi temen aku, thank’s for all. I love u by : Diky”. Setelah aku membaca surat itu, aku baru terfikir ternyata selama ini Diky berubah total itu karena dia menyukai ku, “Ya Allah, parah betul ni orang, benci jadi cinta?????” ucapku dalam hati, serasa aku tidak percaya dengan yang barusan kubaca.
Keesokan harinya,…………
Hari ini, aku dan Tasya akan pergi berangkat ke Banda Aceh dengan ditemani guru pembimbing kami, sebelum pergi kami berpamitan dengan guru - guru dan teman -  teman disekolah, ketika kami ingin masuk kedalam kelas untuk berpamitan dengan teman- teman yang lain nya, tiba – tiba Diky menghampiriku dan bertanya “apakah kamu suka dengan isi kadonya?” Tanya Diky, lalu aku jitak kepala nya, “aauu sakit tau!!!!” erang Diky, “maaf, kalung nya bangus aku suka, tapi suratnya aku gak suka bacanya” jawab ku, “kenapa??” Tanya Diky, “pakai nanyak pula lagi, kenapa ada kata I love u disurat itu?” tanyaku balik, “ oh itu,iya aku suka sama kamu” jawab Diky cepat, “hmm, ekting ajah terus, kamu Cuma buat aku GR ajah kan??, ngaku dech” ucapku, “gak lah aku memang suka sama kamu tapi karena kamu orang nya cuek maka nya aku sering jahilin kamu biar kamu tahu kalau aku suka sama kamu” jelas Diky, “jadi,..?” tanya ku, “jadi kamu mau gak jadi girl friend ku?” Tanya Diky balik, “gak mauuuu” jawab ku sambil menghentakkan kaki ku. Tak lama aku dan Tasya dipanggil kekantor agar bersiap- siap untuk berangkat kebandara, ibuku juga ada datang dikantor, kami menyalami guru – guru dan ibu kami, akhirnya kamipun pergi berangkat ke Banda Aceh menggunakan Pesawat. Sesampainya kami di bandara dan memasuki pesawat, beberapa jam kemudian pun kami sampai di Banda Aceh. Sesampainya kami di bandara kami langsung menuju ke penginapan untuk beristirahat karena besok kami langsung bertanding. Malamnya kami berlatih lagi untuk menciptakan cerita yang menarik.
Keesokan harinya, aku dan Tasya beserta guru pembimbing pergi ketempat berlangsungnya lomba tersebut, disana sudah ada ratusan siswa dari setiap kabupaten yang ada di Nanggro Aceh Darussalam (NAD). Ternyata salah satu sekolah yang bertanding adalah sekolah nya Ajah saudara kembarku. Saat itu aku tidak bertemu dengannya padahal dia juga menjadi utusan dari sekolahnya. Kami berada disana sekitar 3 minggu, karena ada beberapa kali lombanya dilaksanakan, seleksi demi seleksi pun sudah kami lewati besok adalah hari penentuan siapa yang akan menjadi pemenang dari lomba menulis cerpen, Alhamdulillah sekali sekolah ku selalu lulus dari seleksi pertama hingga terahir, dan sekarang tinggal tiga orang peserta lagi yang bertahan, yaitu sekolah ku, sekolah kembaran ku yang bernama Ajah, dan satu nya lagi adalah sekolah SMA dari Aceh Selatan.
Akhirnya hari yang dinanti – nantikan pun tiba aku harus masih melewati satu kali lagi seleksi lomba menulis cerpen ini, aku, Ajah, dan Sukma. Kami bertiga memasuki ruangan dan langsung bertanding menulis cerpen kami masing – masing, setelah pertandingan selesai aku berjabat tangan dengan Ajah yang wajah nya sangat mirip dengan ku, waktu itu aku belum mengetahui kalau dia kembaran ku. Saat aku sedang duduk menunggu hasil dari lomba itu bersama rombongan sekolah kami, tiba – tiba datang seorang ibu – ibu berjalan kerah ku dan memelukku sambil memanggil ku Ajah, lalu akupun mengetakan pada nya kalau aku bukan anak yang barnama Ajah, tetapi dia tidak percaya ketika orang yang dia maksud datang menghampirinya datang dia malah hampir ingin pingsan karena melihat wajah kami yang hampir mirip itu. Dan Ajah menjelasankan kepada bundanya itu, kalau aku adalah peserta lain bukan dirinya dan berasal dari Simeulue. Lalu bundanya itupun bercerita kepadaku kalau Ajah mempunyai saudara kembar yang kini entah dimana karena dia dijual kepada orang lain, karena orang tuanya tidak mampu menghidupi mereka, lalu ibu itu pun bertanya padaku “ nak apakah nama ibumu Erma?” Tanya ibu itu padaku, “iya, tapi bagaimana ibu bisa tahu nama ibu saya?” tanyaku balik pada ibu itu, “iya karena nama ibu yang membeli kakaknya Ajah bernama Erma” jawab ibu itu, “mungkin ibu salah orang” ucapku, “kalau saya salah orang kenapa wajah kalian sangat mirip sekali?”, “aku juga tidak tahu kalau soal itu, memang sering aku dengar orang mengatakan kalau aku ini bukan anak kandung ibu Erma, tapi dia selalu mengatakan kalau itu hanya gosip”, jawabku, “tapi aku sangat yakin kalau kalian adalah saudara kembar, bagaimana kalau kita test DNA saja?” usul ibu itu, akupun setuju, karena aku tidak mau hidup dalam kebohongan selamanya, kami memanfaatkan beberapa hari setelah lomba untuk melakukan test DNA. Sebelum itu, pengumuman pemenang lomba itupun diumumkan, juara ketiga jatuh kapada SMA dari Aceh Selatan, juara kedua Jatuh kepada SMA kembaran ku ajah, dan Alhamdulillah juara pertama dari lomba menulis cerpen ini adalah SMA dari Simeulue yaitu sekolah kami.
Setelah penyerahan hadiah selesai, aku minta izin kapada guru pembimbingku untuk pergi kerumah sakit bersama Tasya sebentar. Sesampai disana kami langsungdiambil darah nya untuk di cocokkan, jika hasilnya positif berarti kami memang mempunyai ikatan keluarga kalau hasilnya negative berarti kami tidak mempunyai ikatan keluarga. Hasilnya pun telah selesai ternyata kata dokter kami positif berarti aku memeng saudara kandung nya Ajah. Karena itu bunda nya Ajah adalah bunda kujuga, akhirnya ketika kami ingin pulang ke Simeulue, bundaku itu ingin bertemu dengan ibuku jadi mereka ikut bersama ku untuk pulang kesinabang. Ketika aku sampai dirumah ibu langsung memeluk dan menciumku dengan bangga karena sudah menang di lomba itu. Dan dia melihat dibelakangku aku pulang bersama dua orang wanita dan salah satu anak perempuan yang bersama ibu itu mirip sekali denganku, dia pun bertanya “ mereka itu siapa, Fah?” Tanya ibu, lalu bundaku pun menjawab pertanyaan itu “aku adalah bunda atau adik kandung ayah kandung mereka yang telah meninggal dunia, dan gadis yang mirip dengan nya itu adalah kembarannya” jelas bundaku, lalu akupun bertanya kepada ibu “ apakah benar apa yang dikatakan oleh bunda itu kalau aku bukan anak kandung ibu, tetapi aku adalah anak yang ibu beli dari keluarga asliku?”, tanyaku, “iya nak, Ifah bukan lah anak kandung ibu, tetapi anak yang ibu beli, sekarng terserah kamu nak kamu mau ikut dengan keluarga mu atau tinggal bersama ibu” ucap ibuku, “aku menganggap ibu adalah seperti ibu kandungku,jadi kalian semua adalah keluargaku, aku ingin sekali kalau kita bisa hidup bersama – sama. Dan akhirnya kami pun bersalaman dan berpelukan, untuk seminggu ini bunda dan saudara kembar ku itu tinggal dirumahku, setelah itu mereka pulang karena masih banyak sekali pekerjaan mereka disana.
Keesokan harinya, aku pergi kesekolah bersama dengan Tasya dan Ajah kali ini aku mengajaknya untuk pergi kesekolah ku, dari pada suntuk dirumah, pagi itu disekolah belum ramai anak sekolah yang datang, kami masuk kedalam kelas Ajah memakai baju biasa, aku berjalan dibelakang ajah sedangkan ajah sudah duluan masuk kekelas ku, tiba – tiba “bruk” Diky memeluk Ajah yang dikiranya adalah aku, dia membuka mata dan berkata siapa yang ku peluk dengan cepat dia melepaskan tangannya yang memeluk Ajah,dan langsung menyapu-nyapu mata nya seperti orang kemasukan debu kematanya, “loh kenapa kalian mirip, tapi yang ini pasti Syarifah,(dia menunjukku) karena dia memakai pakaian sekolah” ucap Diky, ketika ia ingin memelukku aku langsung menghindar, dan diapun akhirnya memeluk dinding, “hahahahahaaha” kami semua tertawa terbahak bahak karena kelakuannya itu. Semingu kemudian Ajah dan bundaku kembali ke Banda Aceh, tetapi mereka sudah berjanji akan datang kembali lagi katka bulan puasa ini nanti bersama saudara dan keluarga ku yang lainnya, sekarang aku tetap tinggal bersama ibuku.
……Tamat……
                                    Deka